Selasa, 03 Maret 2015

Penantian Abadi

         Film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck merupakan adaptasi novel karangan Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) yang bergenre drama romantis. Film yang diproduksi tahun 2013 oleh Soraya Intercine Films ini mengisahkan adat Minangkabau serta perbedaan latar belakang status sosial hingga menghalangi hubungan sepasang kekasih. Disutradai oleh Sunil Soraya dan Sam Soraya sebagai produser, film ini dibintangi oleh Pevita Pearce, Herjunot Ali, Reza Rahadian, Randy Danistha, Arzetti Bilbina, Kevin Andrean, Jajang C. Noer, Niniek L. Karim, Musra Dahrizal Katik, dan Mangkuto. Setelah memakan waktu lima tahun produksi dan dua tahun dalam penulisan skenario, film termahal produksi Soraya Intercine Films ini memiliki sekitar 1.724.110 penonton. Sementara dihari pertama perilisannya, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck berhasil mengumpulkan sekitar 100.000 penonton dan itu merupakan rekor baru untuk sebuah film Indonesia. Setelah proses syuting selama 6 bulan akhirnya dihasilkan film berdurasi 2 jam 49 menit. Dan pada tanggal 11 september 2014 film ini kembali ditayangkan dengan durasi yang lebih lama yaitu 3 jam 30 menit.




         Awalnya film ini menceritakan tentang Zainudin yang ingin silaturahmi dengan keluarga mendiang ayahnya. Zainuddin akhirnya berlayar dari tanah Makassar ke kampung halaman ayahnya di Batipuh, Padang Panjang. Setelah dia tiba, dia bertemu seorang gadis cantik yang bernama Hayati. Mereka akhirnya saling jatuh hati, tetapi cinta mereka terhalangi oleh adat istiadat. Zainudin hanya seorang melarat, ibunya berdarah Bugis dan ayahnya berdarah Minang, statusnya dalam masyarakat Minang yang bernasabkan garis keturunan ibu tidak diakui. Sementara Hayati adalah gadis Minang keturunan bangsawan.
         Karena cintanya yang begitu besar, akhirnya Zainudin melamar Hayati namun lamarannya ditolak dengan alasan mereka tidak berasal dari suku yang sama. Pada saat yang bersamaan, Aziz juga mengirimkan lamaran kepada Hayati, hingga akhirnya dia dipaksa untuk menikah dengan Aziz karena Aziz merupakan keturunan keluarga terpandang dan bersuku. Setelah cukup lama terpuruk, Zainudin yang menyukai sastra akhirnya menuangkan kisah cintanya dengan Hayati ke dalam sajak maupun hikayat. Dia memutuskan untuk pergi ke Tanah Jawa dan membuka lembaran baru dan mulai mempublikasikan karya-karyanya hingga akhirnya dia menjadi penulis terkenal di Nusantara.




         Dalam pertunjukkan operanya, Zainudin kembali dipertemukan dengan Hayati yang pada saat itu sudah berstatus sebagai istri dari Aziz. Pada suatu ketika, Aziz mengalami kebangkrutan karena hobinya yang suka mabuk dan menghambur-hamburkan uang. Dengan terpaksa Aziz meminta pertolongan kepada Zainudin untuk tinggal bersama. Karena merasa malu Aziz meninggalkan rumah Zainudin untuk mencari pekerjaan tanpa membawa Hayati. Tetapi Aziz justru menjatuhkan talak kepada Hayati dan kemudian bunuh diri. Zainudin yang awalnya menghargai Hayati sebagai sahabatnya merasa emosi dan kemudian meminta Hayati untuk pulang ke kampung halamannya. Hayati dengan berat hati pulang dengan kapal Van der Wijck. Zainudin menyesal karena telah sampai hati meminta Hayati untuk pulang ke kampung halamannya dan berniat untuk menjemputnya kembali, tetapi dia terlambat karena saat itu kapal Van der Wijck sudah tenggelam dan dikabarkan dalam surat kabar. Zainudin yang kembali terpuruk tetap bangkit dan melanjutkan karya-karya hebatnya.


         Film ini bertujuan memperkenalkan adat istiadat bangsa Indonesia yang dulunya begitu dijunjung tinggi oleh para ketua adat dan masyarakat setempat. Pembuatan film ini juga sangat memperhatikan properti agar sesuai dengan era tahun 1930. Bahkan untuk kapalnya langsung dipesan dari Belanda. Para pemain juga sangat mendalami peran masing-masing sehingga penonton ikut terbawa suasana. Yang disayangkan dari film ini adalah perubahan pada Hayati yang menjadi tidak sesuai dengan tanah kelahirannya yang beradat. Selain itu bahasanya agak sulit dipahami karena menggunakan berbagai bahasa seperti Melayu dan Minang. Serta tidak diceritakan secara jelas penyebab dari tenggelamnya kapal itu sendiri.
         Dari film ini kita dapat mengambil beberapa amanat dan hikmah diantaranya seperti menghargai perkataan orang yang lebih tua, optimis dalam menghadapi masalah, mengembangkan bakat apapun yang kita miliki, tidak membalas perbuatan jahat dengan kejahatan, tidak mengambil keputusan dalam keadaan emosi dan lain-lain.


(Diambil dari berbagai sumber)